Teater kedua: Antologi tubuh dan kata
Malna, Afrizal
Eksistensi teater sebagai kekayaan kebudayaan Indonesia haeus selalu dikawal dengan eksistensi kritik tentang praktik berteater itu sendiri. Kritik, amatan, resensi, dan arsip tak bisa dilepaslan dari perjalanan kreatif teater. Teater harus dipandang sebagai keseluruhan proses sebelum dan sesudah pemanggungan, dimana kritik mestinya mengambil peran, guna menggiring wacana dan produksi pengetahuan. Dalam dunia teater Indonesia kini, kehadiran kritik bisa dianggap belum mampu mengimbangi jumlah pertunjukkan yang diproduksi begitu banyak kelompok teater di seluruh Indonesia.
Detail Information
- Publisher
- Direktorat Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- Tahun
- 2018
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2022-02-10T22:53:00Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah